Elprina Limbong

Ibu Tua dan Sebuah Cerita

Posted by: frinnie on: November 10, 2009

perempuan tua itu sudah anyir baunya. bukan, bukan cuma karena ketuaan yang dibawa-bawanya ke sana kemari. tapi juga karena ia sepertinya tidak mandi sudah berhari-hari. dan aku mencegah sebisa mungkin untuk tidak menutup hidung. di dalam angkot yang pengap di tengah hari yang bergelimang panas tak tertahankan, hanya beberapa senti aku berjarak duduk darinya.
namun ia sigap mengeluarkan selembar uang seribu dari kantongan plastik, memisahkannya dari kumpulan beberapa lembar uang seribuan dan dedaunan. memberikannya dengan rela pada seorang pengamen di perempatan. sementara aku dan beberapa orang muda lainnya hanya terdiam tanpa reaksi, barangkali segera malu melihat tindakannya. hampir serentak kami memalingkan muka yang tak dapat disembunyikan.
sejurus kemudian ia berpaling padaku, tersenyum lalu berkata, “ada kain di rumah? ibu bisa cucikan, kalau sedikit tiga ribu, kalau banyak lima ribu,”
dengan pahit kugelengkan kepala. ia mengulang tanya lagi hingga beberapa kali sampai aku bosan dan menjawab,” tidak bu! sudah ada yang mencucikan,” beberapa orang menyimak pembicaraan kami dan kulihat segera menjadi jengah. barangkali mereka mulai berpikir kalau ibu tua di sebelahku sudah setengah gila, atau benar-benar pikun.
aku pun merasa sudah tak nyaman, namun menjadi malu pada diri sendiri jika menghindar. bukankah suatu hari kita bisa saja menjadi gila dan sudah pasti menjadi tua? atau dimanakah batas kewarasan manusia?
“ibu tidak punya uang, sudah tak makan dari semalam,”
“ibu mau kemana?”
“mau cari kerja, punya baju kotor di rumah? bisa ibu cucikan, kalau sedikit tiga ribu, kalau banyak lima ribu. adek tinggal di mana?”
“padang bulan, ibu tinggal di mana?”
” di kampung baru, punya baju kotor di rumah?”
“anak-anak ibu mana?”
“sudah pergi,”
“berapa orang?”
“tiga orang, semua sudah berkeluarga. yang satu tinggal di kampung baru, satu lagi di belawan, ibu hidup menumpang sama orang, adek punya baju kotor bisa ibu cucikan,”
“kenapa nggak tinggal sama anaknya?”
“ibu sudah diusir, ibu kadang makan-kadang tidak, hidup menumpang sama orang, bekerja cuci pakaian,”
“kerjanya di mana?”
“di belawan, kadang-kadang pergi ke rumah-rumah cari baju untuk dicuci,”
“terus ibu mau kemana?”
“mau cari orang yang mau dicuci bajunya, adek punya baju kotor di rumah, sedikit tiga ribu, banyak lima ribu, ibu belum makan dari pagi,”
“sudah ada yang cucikan bu!”
aku lalu tersenyum berusaha menyudahi pembicaraan karena tujuanku sudah dekat. lalu kukeluarkan selembar uang lima ribu. kusadar itu tak banyak dan aku pun tak begitu punya alasan untuk memberi uang itu. barangakali pun ia cuma pengemis yang mengarang cerita demi uang. atau ia orang gila atau orangtua pikun.
“ini, nanti ibu beli makanan, maaf ini cuma sekadarnya,” aku memang sedang bokek, karena itu pengamen tadi tak kubagi rejeki.
tiba di tujuan, ketika turun dari angkot sambil untuk terakhir kalinya kulihat wajah tua itu. begitu tua dan sudah kehilangan sahaja. aku melihat manusia sesungguhnya, yang hidupnya sudah lama termakan jaman. gurat-gurat di wajahnya adalah peta buta yang hanya dia sendiri mengetahui. sandal tipis tergerus jalanan adalah perekam segala cerita yang ia lalui. tubuh kering kerontang terbalut kulit tipis hitam dan mengkerut, ditutupi selembar kain model kebaya lama dan sarung yang lusuh.
panas membara menyergap ketika aku turun, dan masih kuingat hingga hari ini rasanya menggigit kulit. dan kusadar ia sudah terlalu lama di dunia ini untuk merasakan apa yang kurasakan, apa yang kukeluhkan. dan mungkin juga kehidupan sekarang sedang menghukumnya atas dosa lama…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.