Posted by: frinnie on: October 14, 2008
Di waktu-waktu matahari akan segera kembali ke peraduaannya, panasnya masih terasa menyengat sore itu. Kita berlima sedang menunggu gelisah di belakang panggung. Menyaksikan satu persatu band KOta Medan yang sudah kesohor maupun belum bergantian menggoyang pelataran kampus Fak Ekonomi USU.
Sesekali bercanda untuk melepas rasa grogi. Penampilan hebat kawan-kawan yang sebelumnya naik panggung cukup bikin keder, membuat sang manager berkali-kali mengingatkan kita supaya tenang saja. Hari itu adalah babak final dan kita tak bisa meramal masa depan.
Tapi semangat masa muda tentu saja membuat kita enjoy dengan gejolak darah yang naik turun, degub jantung tak karuan, serta menikmati sensasi riuh tepuk tangan atau cibiran penonton. Sebelum lagu pertama dilantunkan segala sesuatunya bernama kegelisahan.
Hingga lima belas detik awal terlewati maka dunia hanya milik kita. Pacu adrenalin yang senada lagu milik The Cranberries membuat kita semua lupa pada rasa grogi. Apalagi tepuk tangan kagum penonton melihat lima perempuan di atas panggung menambah euforia.
Hey para sahabatku nun jauh di sana apakah kau merasakan hal yang sama?
Aku ingat kampus UNIkA yang diawali dengan kekesalan dan rasa marah pada panitia yang terus mengulur waktu kita naik panggung. Ditambah desakan bang Gono supaya aku terus mendesak panitia.
Tapi kemarahan segera terbayar dan terlampiaskan di malam berlangit cerah itu. Meski tak kulupa teriakan hina sempat terlontar dari mulut-mulut penonton yang meng-underestimate kita bahkan sebelum lagu pertama dimainkan hanya karena kita perempuan.
“WOi, pake beha saja dek kalau manggung! SUdah, turun, turun, cewek tempatnya nggak di situ!!”
Tapi No Need To Argue segera membungkam mulut mereka. Kita memang perempuan, lalu apa salahnya?
Zombie pun menghentak malam. Cibiran segera berganti tepuk tangan penuh kagum.
“Wah, mereka nggak seperti band cewek sebelumnya!”
Memang, sebelum kita ada band cewek festival yang bawain lagu The Cranberries juga dan mereka buat kesalahan. Tapi Reddel beda dong, kita ini para perempuan berbakat. Dan ingat, malam itu kita bukan peserta tapi bintang tamu yang sudah punya fans, yang para cowok sombong itu diam-diam mengagumi kita.
Kita sadar, anak-anak band cowok itu semuanya takut sama kemampuan Reddel yang tak seberapa. Modal kita tak cuma musik dan skill, tapi semangat, kebersamaan, kekompakan, serta dukungan dari orang-orang hebat (Soember,JG411,Pelangi Studio,Jasper,Evin,Ari,Krisna,Si KUcim,Gogon, Erick,Kunyuk,Jagung,Eki,Joice,geng Warkop Tengku…dll, maaf gak semua nama kuingat).
Kawan-kawan aku rindu masa-masa itu.
Hari-hari belakangan aku rindu untuk ngejam bareng kalian. Mendengar petikan gitarmu Se, dentuman beat drummu Mer, betotan bass mu Yul, suara doloresmu Pix! KAPAAAAAANNN??!!!???