Blank

October 29, 2008

Menjadi blank itu sangat tidak mengenakkan. Seperti buta, tidak tahu apa-apa. Anehnya blankku ini berlama-lama. Kata orang, pasca menikah dan punya anak memang begitu. Tapi basi! Aku nggak boleh blank selama itu.

Memang, sekarang ini kesibukan bertambah. Waktu untuk diri sendiri berkurang drastis. Kalau dulu bisa bertahan sampai jam 3 pagi di kantor super menjenuhkan ini, sekarang sudah tidak boleh lagi.

Dulu, dalam sebulan minimal satu buku baru dibaca. Sekarang, sudah hampir dua tahun nggak pernah baca buku, maunya komik melulu. Eh, kok tiba-tiba jadi dapat ide. Nulis soal komik kesukaan, heheh…

The Apple Way

October 29, 2008

Ketidaksuksesan Lisa membuat Apple harus menelan pil pahit dan merasakannya selama bertahun-tahun. Selama kurang dari dua dekade mereka berada dalam era kegelapan kemudian bangkit dan merajai pasar.

 

Diperkirakan, sebanyak 2000 unit Lisa pada tahun 1989 berakhir di obituari. Padahal, sebagai temuan paling inovatif saat itu, Lisa hampir memiliki segalanya. Tapi ada hal-hal yang tidak dimiliki Lisa yang membuatnya gagal. Pertama, Lisa tidak memiliki banyak teman dalam komunitas pengembangan software independen yang sangat penting. Kedua, Lisa tidak kompatibel dengan komputer lain yang ada di dunia ini. Ketiga, floppy drives Lisa tidak bisa diandalkan, perlu di-upgrade, padahal baru 6.500 mesin yang terjual. Terakhir, dan paling fatal menurut Jeffrey, Lisa dijual dengan harga tinggi.

 

Berakhirnya Lisa maka berakhirlah kehidupan bagi Apple Inc. Tapi itu tidak benar, di tahun 2001 Steve Jobs, salah seorang pendiri Apple yang saat itu sudah menjabat CEO akan menerima kejutan baru dari para inovator Apple. Mereka memperkenalkan iPod.

 

Benar, iPod-lah cikal bakal bangkitnya kembali kerajaan Apple menguasai pasar dunia. Dan lewat buku berjudul The Apple Way ini, Jeffrey L Cruikshank akan mengupas jalan-jalan kesuksesan itu. Bahkan untuk kejutan tambahan, jika iklan cukup sering membuat para produsen cepat kaya. Lewat buku ini, Cruikshank tak hanya akan membuat Apple lebih dari sekadar lebih kaya.

 

Sebab membaca habis buku ini cukup kuat menimbulkan keinginan memiliki produk Apple. Bahasa populer yang lugas membuat buku manajemen tentang komputer yang penuh istilah tehnis ini bak novel saja.

Tak hanya itu, Cruikshank pun menjanjikan 12 Pelajaran Manajemen Dari Perusahaan Paling Inovatif di Dunia. Dan sepanjang 278 halaman, buku terbitan Esensi, Erlangga Group ini akan menyajikan semuanya tak hanya untuk para penggemar Apple, juga para produsen yang begitu ingin tahu jalan sukses perusahaan komputer bonafit kelas dunia itu.

Namun meski dijabarkan dalam 12 bab Jeffrey telah memadatkan pelajaran The Apple Way ini dalam empat kategori dasar, yaitu jadikan produk Anda sebagai raja, jadikan para pelanggan Anda sebagai raja, gemparkan dunia pemasaran, dan perbaiki para pemimpin Anda dan rencana-rencana Anda. Dimana keempatnya saling berkesinambungan untuk mencapai hasil yang maksimal. Jeffrey memberikan contoh, bahwa pemasaran yang inovatif akan menjadikan produk anda sebagai raja.

Hal pertama dikupas Jeffrey soal keterpurukan manajemen Apple adalah mengejar peningkatan margin keuntungan sehingga harga produknya kelewat tinggi. Keadaan ini segera dimanfaatkan para pesaingnya yang menjual barang lebih murah meski kualitasnya tak sebaik milik Apple. Memang, sisi buruk Apple katanya “Mereka tidak terlalu pandai dalam berbisnis,”.

Memang, pengaruh ketidaktahuan figur CEO terdahulu, Jhon Scully soal teknologi komputer dan menjalankan bisnis secara konservatif cukup mendasari ketidaksuksesan Apple. Padahal kelebihan Apple ada pada inovasi produknya dan desain yang perfeksionis.

Namun ketika Jobs kembali ke Apple pada 1997 dan memulai semua revolusi sebagai pertanda bahwa Jobs dan perusahaan ini telah belajar dari kesalahan di masa lalu.

Misalnya saja, saat perusahaan retail tak mampu membantu mendongkrak penjualan, Jobs memutus kontrak lalu membuka Apple Store. Ia bahkan berdamai dengan musuh bebuyutannya, Bill Gates, dan mengizinkan Microsoft menanamkan saham di Apple. “Jika kita membuat kekacauan, ini bukan kesalahan orang lain, tapi kekurangan kita sendiri,” kata Jobs.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kesuksesan Apple dalam bahasan Jeffrey adalah kemampuannya “membangun sekte”. Seperti halnya para penggemar Harley Davidson membuat tato Harley di tubuh mereka sebagai pernyataan kesetiaan pada produk maupun perusahaannya.

Dimulai di tahun 1970-an sewaktu mereka membangun “sekte Apple” dengan menyertakan label Apple di setiap kotak Apple II yang dikirim. Sehingga konsumen bisa menempel lebel tersebut di mana saja. Kegiatan ini terus berlanjut hingga 1990-an dan kini kegiatan “sekte” terbesar Apple bisa dilihat lewat MUG : Mag User’s Group.

Pada pelajaran kesepuluh Apple menggunakan strategi “Menyindir Para  Penjahat”. Hal itu dimaksudkan untuk : menciptakan fanatisme, topik iklan yang baik, mengaburkan fakta bahwa ada banyak masalah yang Anda buat sendiri. Cara ini disebut Jeffrey sebagai sisi gelap Apple, dan sebenarnya berbahaya namun cukup berhasil bagi Apple.

Akan tetapi pernah juga Apple menyerang penjahat yang salah. Yaitu ketika mereka menjadikan target di luar dugaan : calon pelanggan perusahaan. Menggunakan “Lemmings” yang menunjukkan para pebisnis berperilaku seperti lemmings : mengikuti orang lain, tidak mampu berpikir untuk diri sendiri. Buktinya? Mereka gagal melihat Macintosh Office. Iklan ini berhasil membuat para pelanggan tersinggung dan Apple seperti menggenggam bom ditangannya sendiri. Pelajarannya, jangan menyindir calon pelanggan Anda sendiri.

Dalam strategi lainnya Jobs juga tidak mengikuti kebiasaan industri lain yang mendasarkan bisnisnya pada hasil riset pasar. Jobs menekankan, mereka hanya mau membuat produk hebat, karena itu menggelontorkan dana ke divisi penelitian dan pengembangan dengan jumlah yang jauh melebihi pesaingnya.

Buku ini memang untuk para manajer, bukan para pencinta komputer. Namun, buku ini sulit bagi mereka yang tak mengikuti perkembangan dunia komputer. Agaknya perlu membaca buku lain tentang Apple atau bersabar hingga beberapa bab akhir saat Jeffrey membahas konflik di tubuh Apple dan perseteruannya dengan Microsoft dan IBM.

Meski lugas dengan bahasa populer yang diupayakan Jeffrey seringan mungkin diluar beragam istilah tehnik itu, The Apple Way bukan buku yang bisa dinikmati cepat dengan sekali membaca. Mungkin juga perlu Internet untuk mencari gambar komputer versi lama Apple, iklan-iklannya yang provokatif, juga wajah Steve Jobs.*

Judul Buku : The Apple Way

Penulis : Jeffrey L Cruikshank

Penerjemah : Lusiana Rumintang

Terbitan : Esensi, PT Penerbit Erlangga Group

Cetakan : I, 2008

Tebal : 278 hal

Di waktu-waktu matahari akan segera kembali ke peraduaannya, panasnya masih terasa menyengat sore itu. Kita berlima sedang menunggu gelisah di belakang panggung. Menyaksikan satu persatu band KOta Medan yang sudah kesohor maupun belum bergantian menggoyang pelataran kampus Fak Ekonomi USU. Read the rest of this entry »

Sandirwara

October 8, 2008

Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah

ada peran wajar dan ada peran berpura-pura

mengapa kita bersandiwara? Read the rest of this entry »

Inget Anak Indung

October 7, 2008

“Anak ise nge akap kena si ngandung adah o nake, kuja nge akap kena nande bapana…heheheeee, si adah kap nandena nake, si metik-metik bas salon adah heheheeee, si adah kap bapana nake si bonceng-boncengna anak sekolah…

Inget anak indung ngandung i rumah, inget anak indung ngandung i rumah…” Read the rest of this entry »