Syamsul Adnan

March 24, 2008

Saatnya Orang Medan Bikin Film

*elprina limbong 

“Barangkali tidak ada hal menarik dalam hidup saya untuk diceritakan,” itu kata Syamsul Adnan. Tapi lihat saja sosok sutradara yang satu ini. Rambut ikal yang dibiarkan panjang sebahu serta kumis dan janggut yang menjadi ciri khas. Belum lagi ia termasuk salah satu sutradara senior di dunia perfilman dan sinetron Indonesia.Ditemui di kantor yang baru ditempati selama tiga tahun terakhir di Medan, Syamsul tidak banyak bercerita soal perjalanan hidupnya. Namun ayah dari empat orang anak ini banyak memberi pandangannya soal apa yang seharusnya dilakukan para pekerja seni negeri ini. Terutama untuk menjaga budaya dan tradisi.

Datang ke Medan bersama Rumah Produksi Imagen tempatnya bernaung saat ini Syamsul rupanya punya misi tersendiri. Keinginan terdalam untuk bisa berkarya di daerah yang baru dijajakinya ini. “Medan punya potensi besar,” katanya.

Sutradara yang menjabat Vice Director di Imagen Medan itu telah merencanakan sebuah film yang berlatar belakang budaya Sumatera Utara. Terutama Medan katanya, sebagai sebuah kota terbesar ketiga di Indonesia sudah seharusnya mendapat perhatian para seniman film. Bukan itu saja, jika selama ini para seniman film dari Medan harus lari ke Jakarta dulu agar menjadi besar, sudah saatnya hal itu berakhir. “Bukan harus orang Medan yang ke sana supaya bisa bekerja di perfilman. Tapi sudah saatnya film orang Medan yang akan ke Jakarta,” ujarnya yakin.

Tentu saja, doktrin inilah yang menjadi dorongan awal bagi orang-orang yang kini dibina Syamsul di Imagen. Terlepas dari itu, sutradara yang memilih vakum dari dunia sinetron belakangan itu memang merasa terpanggil. “Saya adalah orang yang senang melakukan pembinaan. Bergabung di PH ini saya tetap melakukan proyek film, namun belakangan fokus pada film dokumenter untuk kepentingan company profile,” jelasnya.

Kenapa Syamsul tak lagi menyutradarai sinetron? Menurutnya, melihat kecendrungan sinetron yang tayang di televisi belakangan ia tidak menemukan apa yang ia inginkan. Syamsul memilih diam untuk sementara waktu hingga tiba waktunya karya-karyanya muncul di layar kaca lagi seperti dulu.

Sebab bagi Syamsul sebuah film atau sinetron harusnya memiliki nilai tuntun. Bukan itu saja, kesesuaian dengan dunia nyata juga penting sehingga ada penalaran yang tepat oleh para penontonnya.

Meski mengaku hidupnya tak menarik kiprah mantan suami Petty Permadi ini di dunia film cukup panjang. Dimulai awal sekali pada tahun 1984, pria dari dua etnis Palembang-Manado ini bekerja sebagai pencatat adegan. Dari pencatat adegan ia menjadi asisten sutradara dan pada tahun 1987 sudah menyutradarai film sendiri.

Sebelum terjun ke dunia perfilman, Syamsul seperti kebanyakan seniman seni peran lebih dulu berkutat di teater. Akan tetapi dunia ini katanya sungguh tak menjanjikan secara finansial waktu itu. Padahal Syamsul yang memang sudah menyenangi seni dan bergiat di dalamnya sejak kecil berkeinginan hidup dari dunia itu. Maka demi menggapai mimpi sekaligus mencari penghidupan maka ia pun mulai memasuki dunia film.

Syamsul mengatakan perjalanannya di dunia film dan sutradara cukup panjang hingga ia bisa seperti saat ini. Berbeda dengan para sutradara muda yang saat ini lebih cepat jalannya. “Saya memulai dari dasar sekali. Berkutat dengan hampir semua aspek dalam pembuatan sebuah film, karena itu perkembangan saya hingga menjadi sutradara melalui proses yang cukup panjang. Sekarang era video sudah lebih berkembang, seseorang bisa dengan seketika menjadi pembuat film. Tapi hal tersebut selain sangat positif ada juga negatifnya,” ujar Syamsul.

Orang-orang muda, karena tidak melalui proses pembelajaran  panjang, ukuran kualitasnya masih diragukan. Pengalaman minim sehingga karya-karya mereka tidak sedikit yang terkesan kacangan. Alhasil, untuk sebuah pekerjaan besar mereka mau dibayar lebih murah.

Meski tidak sedikit sutradara muda yang menurut Syamsul patut diacungi jempol dan memang pantas menerima penghargaan. Terlebih, dengan bangkitnya kembali perfilman di Indonesia oleh orang-orang muda ini memicu Syamsul untuk berkarya lagi membuat film layar lebar. “Ya sudah ada rencana yang settingnya budaya orang Medan,” ulangnya.

Dengan idealisme sedemikian tak heran jika karya-karya sinetron Syamsul boleh dikata tidak banyak. Jika kita masih ingat sebuah sinetron berjudul Jalan Membara (1995) dilanjutkan dengan Jalan Makin Membara (1996), keduanya adalah beberapa karya Syamsul yang digarap bersama Dede Yusuf.

Beberapa karya lainnya, yaitu Fatimah (1997-1998), Gado-Gado Metropolitan (2001), FTV Anak berjudul Hadiah Buat Akmal (2002), Permata Hati (2003), Jato Cinte (2004), Rokiman (2006), serta Koper (2006).

Dibalik kesuksesan Syamsul ia mengaku tidak berjalan sendiri. Meski lebih banyak belajar secara otodidak di lapangan, beberapa sutradara senior yang menjadi gurunya dianggap Syamsul sebagai orang-orang paling berpengaruh.

Yang pertama adalah Ali Shahab. Sutradara sinetron Rumah Masa Depan yang ditayangkan TVRI dan tenar di era 1980-an itu pada Syamsul memberi gambaran soal film masa depan yang didominasi video. “Ia banyak mengajari saya soal sistematika kerja,” jelas Syamsul.   

Kemudian ada Sofyan Hadi Waluyo (alm), komedian ini menurut Syamsul hidup begitu filosofis. Filsafat-filsafatnyalah yang banyak mengena di hati Syamsul selaku hidup dalam dunia perfilman.

Orang ketiga adalah sutradara Ida Farida yang salah satu karya terbaiknya berjudul Aku Mau Hidup, membuahkan gelar terbaik untuk Meriam Bellina pada FSI 1994. Perempuan mantan peragawati sebelum terjun ke dunia film itu banyak mengajari Syamsul soal dramaturgi.

Yang terakhir adalah Dasri Yakob yang banyak mengajarinya soal speed (kecepatan) dalam membuat film. Kalau kita ingat film-film yang dibintangi Barry Prima atau Advent Bangun, sutradara yang satu ini banyak melatih Syamsul untuk pembuatan film action.

Selain mimpi membuat film di Medan, Syamsul juga menyusun rencana soal mengeksplorasi kesenian di Kota Medan. Seperti halnya Malam Betawi yang pernah ia buat di Jakarta, Syamsul berkeinginan membuat momen serupa.

“Saya melihat Taman Budaya yang pas sebagai wadah para seniman untuk berkesenian. Seandainya di tempat itu para seniman berkumpul dan berkesenian. Para tamu hotel bintang lima yang ada di depan TBSU itu pun bisa tertarik untuk menonton pertunjukan mereka. Tapi sayang tidak demikian yang terjadi. Bahkan yang saya sesalkan dari beberapa seniman di Kota Medan adalah orientasi mereka akan uang tidak sesuai dengan apa yang dapat dikerjakan,” ucapnya.

Namun begitu, Syamsul tak langsung surut dengan niatnya. Ia sangat berharap semua kalangan akan memberi dukungan bagi keinginannya itu. Meski jalannya tak selalu mulus, terutama ketika ia harus beradaptasi dengan orang-orang Medan yang katanya sangat terbuka plus selalu ingin jadi ketua. “Ketemu orang Medan yang semuanya mau jadi ketua, ya sudah saya yang jadi staffnya saja,” katanya dengan nada bergurau.

One Response to “Syamsul Adnan”

  1. adi said

    ayo bang kita buktikan………

    Menciptakan penggairahan Perfilman Nasional guna meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap Film Nasional

    Sebagai sarana filtrasi masuknya budaya asing melalui tontonan

    Membangkitkan penggairahan masyarakat perfilamn di Sumut dan mengembalikan sentra industri perfilamam di Indonesia, bahwa Sumut adalah salah satu pusat industri perfilaman Indonesia

    Melahirkan Produser-Produser baru dari Sumut

    Menciptakan lapangan kerja baru khususnya di bidang perfilaman

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.